Rumah Syariah

Rumah Syariah adalah rumah yang diperjual belikan dengan memperhatikan hukum syariah islam. Oleh karena itu rumah syariah tidak boleh bertentangan dengan kaidah kaidah jual beli didalam hukum jual beli islam. Skema penjualannya bisa secara tunai atau biasa disebut dengan cash, bisa juga dilakukan secara terhutang yaitu dengan cara di angsur atau di cicil. Pada kali ini kita akan bahas jual beli rumah syariah atau perumahan syariah dan aplikasinya.

Prinsip yang harus dipegang adalah :

1. Rumah Syariah yang dijual harus tanpa riba

Dalam Surah al-Baqarah ayat 275 Allah SWT berfirman:
وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّﺒﯜا
Artinya :
…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan  riba…(Q.S. al-Baqarah: 275)
Tanpa riba disini maksudnya apabila rumah atau perumahan dibeli secara terhutang dengan pembayaran di angsur atau di cicil yang dalam masyarakat sekarang biasa disebut dengan KPR maka KPR tersebut harus tanpa riba. Dengan demikian KPR harus tanpa bunga, serta tanpa denda. Karena bunga dan denda adalah riba dalam jual berli terhutang. Bunga akan mengakibatkan cicilan lebih besar dari pada hutang. Denda juga berpotensi memberikan kontribusi pembayaran yang lebih dari pada jumlah hutang. Oleh karena itu rumah dicicil dengan tanpa bunga dan tanpa denda adalah salah satu prinsip jual beli rumah syariah.
Dalam masa sekarang ini jual beli terutang dengan bank sangat identik dengan bunga dan denda alias riba. sehingga para developer syariah menggunakan cara pemasaran perumahan syariah tanpa bank atau rumah tanpa bank sehingga otomatis rumah yang terjual juga tanpa bunga dan tanpa riba, ketelatan pembayaran rumah pun tanpa denda.
2. Jual beli rumah syariah harus jujur, tanpa tipu tipu, dan tanpa paksaan
Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 29.
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ﺍٰمَنُوْاﻻَ تَأْكُلُوْا أَمْوَآلَكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَاطِلِ اِﻻﱠ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar) kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. (Q.S. an-Nisaa’: 29)
Dalam praktek jual beli secara umum atau jual beli rumah syariah dalam pembahasan kita ini, tidak boleh ada unsur penipuan misalkan suatu barang dibeli dengan harga 1000 dijual dengan harga 2000, kemudian ketika ada pembeli maka pedagang mengaku barang dibeli dengan modal harga 1500. itu adalah dilarang.
contoh lain barang ada cacat dikatakan tidak ada cacat atau menutup tutupi cacat barang.
Ataupun pembeli dipaksa membeli barang yang tidak ia inginkan. Misal murid sekolah dipaksa untuk membeli seragam sekolah dari gurunya.
jika proses jual beli telah usai otomatis barang yang dijual sudah berpindah kepemilikannya. Meskipun masih dalam keadaan terhutang, barang tersebut sudah penuh milik si pembeli. sehingga penjual tidak boleh menyita barang yang dijual tanpa sepersetujuan pembeli. menyita saja tidak boleh apalagi melelang tanpa ijin pemilik (pembeli). oleh karena itu kami juga menerapkan rumah syariah tanpa sita.
3. Akad Jual beli Rumah Syariah
Yang juga perlu diperhatikan adalah adanya akad jual beli sehingga jual beli menjadi sah. Perlu diperhatikan akan jual beli ini dilakukan oleh pemilik barang dengan pembeli. Jika pemilik barang tidak bertransaksi langsung maka dapat diwakili oleh orang yang ditunjuk pemilik barang sebagai wakilnya, sehingga akadnya adalah antara wakil pemilik barang dengan pembeli.
Wakil ini berarti adalah orang yang mewakili pemilik barang, sehingga pembeli tahu bahwa ia adalah wakil dari pemilik barang. Dalam dunia perdagangan wakil seperti ini biasa kita temui sebagai sales untuk barang retail atau makelar untuk property, yang secara sadar ia mengakui barang yang dijual adalah barang pemilik barang sedangkan ia berlaku sebagai wakil. Sehingga proses jual beli property syariah atau rumah syariah ini dapat langsung ke pengembang atau ke perwakilan (agent properti) yang resmi ditunjuk oleh pengembang properti syariah.
Perlu diperhatikan pula bahwa akad jual beli rumah syariah harus akad tunggal, bukan akad ganda (dua akad dalam satu perjanjian).

hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa-i dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِيْ بَيْعَةٍ.

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan dua transaksi dalam satu transaksi jual beli.” [Hadits ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban].

Contoh akad yang dilarang:
  • si A menual rumah kepada si B dengan syarat si B menjual motornya kepada si A.
  • dilarang penggabungan akad sewa menyewa dengan akad jual beli. (biasa terjadi pada jual beli dengan leasing, arti kata lease adalah sewa padahal kehendak awal adalah membeli bukan menyewa)

*sumber : almanhaj.or.id/4036-dua-transaksi-dalam-satu-transaksi-jual-beli-orang-kota-menjualkan-barang-dagangan-orang-desa.html

Demikian pentingnya akad maka kita harus perhatikan bahwa akad yang dilakukan harus sesuai dengan syariah sehingga akad jual beli tidak rusak. Oleh karena itu penjualan rumah syariah selain memperhatikan dan memastikan rumah tanpa riba, juga memastikan jual beli rumah syaraih sesuai dengan akad secara syariah.
Wallahu a’lam
Semoga artikel ini bermanfaat dan transaksi yang akan kita lakukan di kemudian hari sesuai dengan syariah sehingga akan membawa keberkahan. Semoga jual beli secara syariah dapat diterapkan di semua perdagangan pada umumnya serta secara khusus pada web ini adalah jual beli rumah syariah.