Pilih KPR Syariah atau Konvensional?

KPR Syariah, KPR Bank Syariah, atau KPR Konvensioan

Dalam pembelian properti banyak masyarakat yang masih menggunakan skema KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Memang saat ini KPR sedang naik daun karena permintaan rumah terus bertambah. Dalam awal transaksi properti, penjual dan pembeli melakukan skema pembayaran cash atau terhutang. Kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak jaman dahulu. Pada perkembangannya perbankan mulai masuk ke ranah peminjaman uang kepada masyarakat yang ingin membeli rumah. Dunia perbankan menyebutnya dengan istilah KPR.

KPR Konvensional

Banyak unit kerja bank membuat produk KPR. Mulai dari KPR BCA, KPR BRI, KPR Mandiri, KPR CIMB Niaga, bahkan program subsidi pemerintah melalui rumah BTN yang di selenggarakan oleh bank BTN atau yang biasa disebut dengan KPR BTN. Selain itu banyak pula bank-bank BPD yang menjalai peminjaman KPR antara lain KPR bank DKI, KPR bank Jabar (KPR BJB), KPR Bank Jateng. KPR ini yang biasa disebut dengan KPR Konvensional.

KPR Konvensional merupakan KPR dengan sistem pinjaman berbunga. Pihak bank memberikan pinjaman untuk membeli rumah atau properti lain, kemudian dengan margin bunga lah bank konvensiol tersebut mendapatkan hasil. Trik agar mereka di lirik oleh masyarakat adalah dengan menerapkan margin bunga rendah, KPR angsuran tetap, dll.

Secara prinsip, KPR Konvensional mendapatkan untung berupa margin bunga pinjaman. Bunga pinjaman adalah istilah yang digunakan oleh bank konvensioan. Sedangkan didalam islam, bunga pinjaman disebut sebagai riba. Masyarakat indonesia yang mayoritas merupakan muslim tentu tidak asing dengan riba. Riba dalam islam merupakan salah satu dosa besar, yang dosanya lebih besar dari dosa berzina. Sehingga apabila seseorang masuk dalam cicilan pinjaman riba, setiap bulan membayar angsuran riba sama dengan setiap bulan berzina. Apakah  mereka rela jika suami atau istri mereka berzina dengan orang lain setiap bulan?

KPR Bank Syariah

Dengan sadarnya masyarakat akan dosa riba, dan semakin banyak penolakan terhadap bunga bank yang merupakan riba maka masyarakat mulai melirik bank syariah.

Dalam bank syariah, tidak ada pengambilan keuntungan yang berupa bunga bank. Bank syariah dalam hal pembiayaan KPR bank Syariah mengambil keuntungan dengan margin. Margin disini adalah margin jual beli antara bank syariah dengan nasabah. Sehingga dalam prosesnya perlu diperhatikan adanya akad jual beli antara bank syariah dan nasabah. selain itu harus di pastikan bahwa bank syariah sudah membeli dari pemilik sebelumnya. bagaimana hukum secara islam jika bank syariah belum membeli dari pemilik rumah sebelumnya tetapi sudah berakad dengan nasabah dalam hal jual beli? tentu ini merupakan akad yang rusak atau akad bermasalah. karena tidak di bolehkan jual beli dengan barang yang belum ada pada diri penjual.

Pada awalnya, bank syariah yang terkenal di masyarakat adalah bank muamalat. Sehingga masyarakat mulai melirik KPR Muamalat. selain itu koperasi yang berprinsip syariah juga mulai bermunculan. BMT lokal mulai banyak dibentuk untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Karena antusias masyarakat yang begitu tinggi maka bank konvensional mulai membentuk anak perusahaan bank syariah mereka seperti Bank Mandiri Syariah dengan KPR Mandiri Syariah, Bank BTN dengan KPR BTN Syariah, Bank BCA Syariah dengan KPR BCA Syariah, Bank BNI dengan KPR BNI Syariah, dll.

Secara islam, dikatakan syariah apabila memenuhi kaidah islam yaitu jual beli tanpa riba. Riba merupakan tambahan pinjaman. Sehingga riba dapat diidentikkan dengan: Pinjaman berbunga dan Denda Pinjaman apabila mengalami keterlambatan, karena keduanya merupakan tambahan pinjaman.

Selain itu dikatakan syariah apabila akadnya benar.